DIPAKAI TUHAN WALAU BELUM SEMPURNA

“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” (Filipi 3: 12)


Belum lama ini, untuk pertama kalinya saya mendapat tugas membacakan sensura morum. Di tengah usaha mengingatkan diri agar tidak berbicara terlalu cepat, saya justru mendadak gugup ketika harus mengajak jemaat memasuki momen hening. Tidak adanya panduan durasi maupun musik pengiring sebagai penanda berakhirnya keheningan membuat saya kehilangan ritme. Tanpa sadar, saya kembali berbicara terlalu cepat. Akibatnya, suasana sensura morum hari itu terasa jauh dari khusyuk seperti yang seharusnya terjadi.

Seandainya saya harus memberi nilai untuk pelayanan saya sendiri, mungkin saya akan memberi nilai, “buruk sekali.” Rekan-rekan penatua yang bertugas bersama saya pun, dengan jujur namun tanpa sedikit pun menghakimi, menyampaikan bahwa saya memang terlalu cepat membacakan sensura morum.

Peristiwa itu membuat saya merenung. Sempat muncul pikiran yang defensif, “Mungkin lebih baik saya meminta dispensasi agar dibebaskan dari tugas-tugas yang mengharuskan saya berbicara di depan umat. Rasanya lebih aman jika setiap minggu saya diberi tugas sebagai pendamping usher dan menyambut jemaat di pintu gereja.

Namun, di tengah rasa galau dan tidak layak itu, Tuhan menyapa saya melalui Filipi 3:12, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna.” Pengakuan Rasul Paulus ini membawa kelegaan besar bagi hati saya. Jika Tuhan berkenan memakai Paulus untuk pelayanan yang begitu besar tanpa menuntutnya menjadi sempurna terlebih dahulu, saya percaya Dia juga tidak menetapkan kesempurnaan sebagai syarat mutlak bagi saya untuk melayani sebagai penatua.

Selanjutnya, melalui Filipi 3:13 “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku”, saya belajar bahwa “melupakan” bukanlah mengabaikan kesalahan atau menutup mata terhadap kekurangan diri, tetapi agar beban kegagalan dan rasa bersalah masa lalu tidak menghambat langkah pelayanan hari ini. Sementara, ungkapan “mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku” menjadi dorongan untuk terus bertumbuh, belajar, dan berlatih. sehingga saya dapat melayani Tuhan dengan lebih baik dari hari ke hari. Puji Tuhan
yang dengan kasih-Nya sudah meyakinkan saya, bahwa Dia tidak mencari pelayan yang sempurna, melainkan hati yang bersedia dibentuk.

(Pnt. Roosmala Djayasukmana)

KESIAPAN UNTUK MENCINTAI
Kata-Nya: “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri – demikianlah firman TUHAN-: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan...