Warta Minggu Ini
DEADLINE MEMUJI TUHAN

“Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!”

(Mazmur 150: 6)

Saya selalu bangun saat adzan dilantunkan untuk menyiapkan keperluan pagi dan siang hari sebelum ke kantor. Suatu pagi, tidak biasanya saya mendengarkan secara khusus kata-kata yang bisa saya tangkap dari lantunan tersebut. Ada kata-kata yang sudah terasimilasi ke dalam bahasa Indonesia, yang saya bisa kira-kira artinya. Namun saya menangkap bahwa ada pujian kepada Tuhan di sela-sela panggilan beribadah. Teman-teman Muslim menunaikan sholat sebanyak lima kali, jadi ada lima kali pujian kepada Tuhan yang dapat dihitung. Saya jadi berhitung, “Kemarin itu saya memuji Tuhan berapa kali ya?”

Pujian biasanya diberikan karena sesuatu yang dimilki orang lain, entah karena keberhasilan, tampilan fisik atau karena kualitas pribadi yang dimilikinya. Kita merasa takjub, memberikan apresiasi atau ingin melihat pengulangan kemunculannya. Misalnya ketika si bungsu menolong kakaknya, sang ibu memujinya supaya si bungsu terus melakukannya. Pujian juga menyatakan terima kasih sebab sudah menerima akibat dari kualitas yang dimiliki orang tersebut. Contohnya ketika seorang pengemudi taksi mengembalikan dompet penumpangnya yang tertinggal. Jadi pujian seringkali menjadi sebuah akibat dan sifatnya bukan proaktf. Inilah yang menjadi pola bagi banyak orang dalam memuji Tuhan. Kita memuji Tuhan setelah menerima akibat dari kualitas Tuhan: berkat. Celakanya lagi berkat itupun diukur berdasar kriteria yang kita miliki. Sungguh sukar memuji Tuhan ketika hidup yang kita jalani penuh pergumulan, bukan?

Daud punya pemikiran lain tentang ini. Ia mengatakan: “Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku” (Mzm. 34: 2). Bagi Daud memuji Tuhan tidak harus ada alasan terlebih dahulu, kapan pun ia bisa memuji Tuhan. Tidak ada batasan waktu, batasan tempat ataupun batasan situasi. Sayangnya kita membatasi memuji Tuhan karena kita pikir Tuhan berutang berkat kepada kita. Ketika kita menghadapi penderitaan dan kegagalan, kita menyangka  bahwa Tuhan salah sebab Ia tidak menghindari semuanya terjadi pada kita atau melindungi kita. Pujian kita terkait dengan apa yang kita terima dari Tuhan.

Suatu hari kelak, kita akan melihat Tuhan muka dengan muka. Hingga saat itu tiba, kita memiliki waktu di dunia ini berlatih diri untuk memuji-Nya. Kita menghadapi deadline. Bukankah kita akan memaksimalkan seluruh usaha karena waktu yang terbatas itu? Mazmur di atas mengajak kita untuk memuliakan Tuhan. Jadi selama kita masih bernapas, pujilah Tuhan, apapun kondisi kita. Sebagai ciptaan, kita perlu memuji Sang Pencipta. Sampai waktunya tiba bagi kita memuji-Nya langsung di surga dengan suara lantang yang sudah kita latih di dunia.

Selamat (berlatih) memuji Tuhan.

(Novi Lasi)

MENJADI KUAT DAN BERNILAI
“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka...