“Jawab manusia itu, “Perempuan yang Kauberikan disisiku, dialah yang memberi buah dari pohon itu kepadaku, dan aku makan.” Berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu, “Apa yang telah kauperbuat ini?” Kata perempuan itu, “Ular itu yang memperdayaku, maka kumakan.””
(Kejadian 3: 12-13)
“Pak.. kenapa terlambat?”, si bapak menjawab jalanan macet”… “dek ceup…
ceup… jangan menangis ya, kursinya nakal, ada di depan adek dan adek kesandung…. jangan menangis lagi, kursinya sudah mama marahin”. Si adik pun menjadi tenang karena yang salah kursi bukan adik yang tidak lihat ada kursi di depannya.
Bahkan baru-baru ini ada 2 peristiwa yang masih melekat dalam ingatan saya. Ada seorang anak yang lupa membawa pulang botol minumnya dari suatu acara. Ketika dicari, botol minum itu tidak ada. Sang ibu menyalahkan orang-orang yang ada di tempat acara atas hilangnya botol minum tersebut. Ibu itu menganggap botol minum diambil oleh salah seorang yang ada di sana. Satu peristiwa lainnya, baru-baru ini seorang juri
setingkat pemerintahan kelas atas mengatakan jawaban peserta lomba cerdas cermat salah. Ternyata jawaban peserta lomba itu benar. Sang Juri pun menyalahkan ‘speaker’ yang tidak berfungsi dengan baik sehingga ia tidak mendengar jawaban peserta lomba dengan jelas.
Blame on others ternyata adalah dosa turunan yang setua usia manusia diciptakan di dunia ini. Ketika Allah bertanya kenapa Adam memakan buah dari pohon di tengah taman. Adam serta merta menyalakan Hawa dan ketika Hawa ditanya oleh Allah, Hawa pun menyalahkan ular yang telah membujuknya untuk memakan buah itu. Dari pernyataan Adam saja terlihat seolah-olah dia bukan saja menyalahkan Hawa tetapi menyalahkan Allah yang telah menempatkan Hawa disisinya.
Secara psikologis “Saya tidak salah, pihak lain lah (entah orang entah benda mati) yang salah” adalah suatu mekanisme pertahanan diri untuk merasa aman. Pertama, terhindar dari tanggung jawab untuk menerima konsekuensi kesalahan. Kedua, menghindari kebenaran tentang dirinya sendiri yang tidak ingin ia akui. Padahal dengan mengakui kesalahan akan
memudahkan kita memperbaiki diri dan sikap dalam bertindak dan berucap.
Salah satu kurikulum SBI “Anak Bijaksana” adalah anak-anak belajar untuk berani berkata benar meski harus menanggung konsekuensi. Mungkin sulit – karena sejak kecil terbiasa untuk menghindari kebenaran pada diri sendiri dengan menyalahkan pihak lain – tetapi, bukan berarti tidak bisa. Belajar jujur terhadap diri sendiri dan bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan adalah cara untuk menghilangkan kebiasaan “blame on others”. Tuhan Yesus memberkati.
(Ulima Rohana Tampubolon)