Warta Minggu Ini
BIJI SESAWI

“Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya.””
(Matius 13 : 31)

Saya mendapat email dari teman SMA yang menjelaskan mengenai biji sesawi. Seumur hidup saya tidak pernah melihat biji tersebut dan juga tidak pernah tahu bagaimana bentuk biji tersebut. Saya sering mendengarkan khotbah-khotbah perihal biji tersebut, misalnya khotbah yang diambil dari Matius 13 : 31 – 32; 17:20. Dalam Wikipedia, sesawi, dalam bahasa Inggris disebut black mustard, adalah biji yang kecil dari berbagai tumbuhan. Diameter biji tersebut adalah sekitar serta panjang sekitar 0,5 cm dan mempunyai warna putih kekuning-kuningan, hitam dan coklat. Kandungan vitamin dan mineral daripada biji ini sungguh luar biasa, yakni protein, karbohidrat, vitamin A, B1, B2, B3, B6, B9, B12, C, E, K, Kalsium, besi, Magnesium, Fosfor, Sodium dan Zinc. Lalu pertanyaan kita adalah seberapa besar pohon sesawi tersebut?

Setelah saya melihat serta gambaran daripada biji sesawi tersebut, saya merasa diri kita ini tidak mempunyai arti apa-apa dibandingkan dengan biji tersebut. Jika dari segi ukurannya, biji sesawi itu kalah besar dibandingkan dengan manusia, tapi biji tersebut dapat memberikan kontribusi yang hebat bagi manusia maupun ciptaan lainnya. Belajar dari biji sesawi, mari kita bertanya: sudahkan kita memberikan kontribusi bagi dunia dan sesama selama kita hidup atau seberapa banyak kita memberikannya?

Firman Tuhan dalam Matius 17 : 20 mengatakan bahwa jika kita mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kita dapat memindahkan gunung. Sebenarnya kita dapat menafsirkan ayat ini dengan memaknai bahwa dengan iman, kita dapat melakukan segala perkara yang mustahil bagi manusia. Saya sering bertanya kepada diri saya sendiri: mengapa Tuhan Yesus mengambil perumpamaan biji sesawi tersebut. Dari pertanyaan itu, kemudian saya merenungkannya dan mendapatkan beberapa pembelajaran.

Pertama, saya menemukan bahwa diri manusia penuh dengan kesombongan, keangkuhan dan selalu menyatakan dirinya benar dan paling hebat. Keangkuhan kita ini membuat kita kadang meninggalkan Tuhan sebagai Pencipta dunia dan segala isinya. Kedua, manusia lebih menggunakan kepandaiannya dan berpikir secara rasional daripada iman kepada Tuhan. Ketiga, manusia bersifat tidak sabar, mau cepat atau instant. Pada kenyataannya biji sesawi itu memerlukan waktu yang lama untuk bertumbuh menjadi pohon yang besar dan menghasilkan.

Memiliki iman sebesar biji sesawi yang kecil tidak semudah kelihatannya, namun bukan berarti kita mustahil memilikinya. Hal yang kita perlukan adalah senantiasa bergumul, bertanya dan menjalani iman itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari sambil berserah pada Tuhan kita. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kita.

(Ryadi Pramana)

BERSYUKUR ATAS KEHADIRAN-NYA
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu...