BERHARGA BUKAN KARENA SEMPURNA

“Supaya waktu yang tersisa dalam hidup ini jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” (1 Petrus 4:2)


Membaca dan merenungkan nas dari 1 Petrus 4:1-6, jujur saja, awalnya membuat saya kebingungan. Harus mulai dari mana dan apa yang harus dituliskan? (Mungkin Bapak/Ibu juga pernah membaca bagian ini dan merasa baik-baik saja, namun bagi saya, perikop ini memberikan teguran yang mendalam).

Sebagai manusia yang masih hidup di dunia, godaan kedagingan itu masih sangat kuat – setidaknya bagi diri saya pribadi. Kita sering kali dihadapkan pada banyak keinginan: ingin ini dan itu, ingin pergi ke sana kemari, merasa cocok dengan satu orang namun enggan dengan orang lain, dan seterusnya. Kita gemar mencari kenyamanan dan hal-hal yang menyenangkan, namun terkadang kita menjadi kurang peka terhadap keadaan sekitar yang mungkin sedang tidak baik-baik saja.

Firman Tuhan mengingatkan kita: “Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan apa yang suka dilakukan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah…” (ayat 3a).

Dalam 1 Petrus 4:1-6, kehidupan lama manusia diibaratkan sebagai manusia yang telah mati akal budinya. Itulah sebabnya manusia dihakimi secara badani. Namun anugerah-Nya luar biasa: oleh Roh, kita dimampukan untuk hidup menurut kehendak Allah (ayat 6).

Inilah alasan mengapa Kenaikan Tuhan Yesus ke surga sangatlah penting bagi kita. Kenaikan-Nya bukanlah akhir dari cerita manusia di bumi, melainkan awal dari misi-Nya. Kita ditugaskan untuk mengarahkan sesama umat ciptaan-Nya yang belum mengenal Dia. Ia naik ke Surga, dan Roh Kudus turun untuk membuka jalan sekaligus menolong kita dalam melanjutkan misi tersebut, agar semakin banyak orang yang percaya kepada-Nya.

Kini, Ia bertakhta di surga sebagai Raja yang berkuasa selama-lamanya. Dari takhta-Nya, Ia terus mengawasi bagaimana kita menjalani hari-hari dan menghidupi iman kita!

Ada satu kebenaran yang indah yang harus kita ingat: Kita berharga di hadapan-Nya bukan karena kita sempurna. Kita berharga karena kita berada di tempat di mana segala kekurangan kita diterima dan diubahkan oleh-Nya.

Sebagai bahan perenungan bersama: Tidak semua yang kasar itu buruk, dan tidak semua yang lembut itu baik. Kasarnya sebuah parutan sangat berguna untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, sementara lembutnya lumut justru bisa membuat kita terpeleset dan jatuh.

Oleh karena itu, teruslah mendekatkan diri kepada-Nya. Biarkan diri kita dibentuk menjadisahabat karib-Nya. Teruslah datang merayu Tuhan dalam doa, dan senantiasa merendahkan hati di hadapan-Nya.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Puji Tuhan, Haleluya!

Yani Himawan

DUNIA SIBUK SEKALI, PULANG DULU YUK
“Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Maha Kudus, Allah Israel, ”Dengan berbalik kepada-Ku dan tinggal diam kamu akan diselamatkan,...