“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” (1 Yoh. 4: 19)
Segala sesuatunya bermula dari satu pertanyaan universal: “Apakah kasih itu?” Saat merenungkan pertanyaan tersebut, kita menyadari betapa ringannya kita mengucapkan kata “kasih” atau “cinta” dalam keseharian. Untuk waktu yang lama, definisi kasih dalam hidup saya begitu sempit – penuh syarat, transaksional, dan sangat bergantung pada pembuktian diri agar dianggap layak. Namun, enam hari lima malam di GKI Summer Camp mengubah segalanya. Pekan itu membenamkan saya dalam satu kasih yang radikal dan tak tergoyahkan.
Sepulang dari sana, saya menyadari bahwa saya telah menempuh sebuah perjalanan pencarian – sebuah proses untuk membongkar dan merombak kembali semua pemahaman lama saya. Refleksi terbesar apakah yang saya bawa pulang? Kasih sejati, dalam satu sisi, terasa begitu “menuntut sekaligus membebaskan”. Kasih itu tidak menunggu kita menjadi sempurna, tidak juga menuntut rekam jejak yang tanpa cela. Ia mengejar kita dan mengasihi kita hingga ke akar-akarnya, tanpa syarat apa pun.
Ada ungkapan yang berbunyi, “Orang yang terluka akan melukai orang lain.” Memang benar bahwa kita semua membawa luka tersembunyi yang jarang kita ceritakan. Namun, selama seminggu di GKI Summer Camp, alih-alih terburu-buru “menyembuhkan” dunia satu sama lain, kami belajar untuk sekadar hadir dan duduk bersama di tengah pergumulan. Menyerahkan diri pada ritme perkemahan yang tenang memberikan kami anugerah untuk melakukannya. Kami memilih empati ketimbang penghakiman, dan menyadari bahwa pemulihan sering kali dimulai saat kita merasa dipahami.
Hal itulah yang saya temukan pada orang-orang di sekitar saya. Saya melangkah ke sebuah ruangan yang penuh dengan orang asing, tetapi justru menemukan sebuah tempat kudus (sanctuary). Jauh dari hiruk-pikuk dan kebisingan hidup sehari-hari, tempat itu menjadi ruang aman yang begitu berharga – sebuah tempat di mana saya akhirnya bisa melepaskan topeng dan menjadi diri sendiri. Tanpa perlu bersandiwara. Cukup menjadi apa adanya.
Bagi setiap jiwa yang berbagi perjalanan ini dengan saya: Anda sekalian tidak hanya mengajarkan saya tentang kasih yang radikal, tetapi menghadirkannya secara nyata. Anda menjadi bukti hidup tentang apa artinya diterima seutuhnya dan merasa sepenuhnya aman. Terima kasih karena telah hadir tanpa topeng, dan karena telah memberi saya keberanian untuk melakukan hal yang sama.
Kini, ketika koper-koper telah dibongkar dan euforia perkemahan perlahan memudar ke dalam rutinitas, perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Ini saatnya untuk meneruskan kasih ini. Seperti sebuah ungkapan yang menggema: “GKI Summer Camp bukanlah event, tetapi proses; bukanlah camp, tetapi hidup.” Ini bukan sekadar tempat yang saya tinggalkan, melainkan sebuah realitas yang kini saya bawa ke dalam dunia nyata. Jadi… apakah kasih itu? Kasih bukanlah sebuah syarat yang harus dipenuhi, melainkan sebuah ruang aman untuk menjadi diri sendiri.
(Ozias Raphael)