Warta Minggu Ini
A BOOK NOT JUST THE COVER

“Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?”

(Markus 11 : 28)

Saya senang membaca sejak masih SD, sehingga membeli buku merupakan hal rutin yang saya lakukan, dan mengunjungi toko buku minimal 2 kali dalam sebulan. Setiap kali saya melihat buku tentu yang saya lihat lebih dulu adalah cover bukunya, judul dan pengarang biasanya sudah di benak saya, lalu saya baca ringkasan isi yang ada di cover bagian belakang buku tersebut. Namun beberapa kali saya menemukan isi buku itu berbeda dengan gemerlap dan menariknya cover buku tersebut. Kadangkala saya juga dapat menemukan buku dengan cover design yang biasa-biasa saja, bahkan nyaris tidak menarik minat pembeli. Namun setelah dibaca, ternyata isinya sangat bagus dan memiliki nilai yang tinggi.

Yesus dengan penampilan-Nya yang sederhana, telah melakukan beberapa kali mujizat, dalam perjalanan dari Yerikho ke Yerusalem. Ia melakukan mujizat dengan mengutuk pohon ara dan pohon itu kering sampai ke akar-akarnya, serta menyucikan Bait Allah. Dia mengajarkan, “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tapi kamu telah menjadikannya sarang penyamun.” Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta para tua-tua dengan jengkel dan sombong menegur Yesus yang dianggap telah berbuat lancang. Mereka melihat Yesus sebagai orang biasa, jadi Yesus tidak memiliki hak dan wewenang untuk mengampuni orang berdosa yang bertobat, mengusir roh jahat dan menerima penghormatan dari masyarakat.

Kita belajar dari apa yang saya alami pada saat membeli buku dan sikap imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan para tua-tua. Kita kadangkala melihat orang lain dari penampilan luarnya. Tanpa sadar kita pun terjebak pada nilai-nilai yang ditebarkan oleh dunia ini, yaitu menilai orang lain dari apa yang dia pakai dan dia miliki. Janganlah kita menilai manusia dari penampilannya lahiriah saja. Penampilan lahiriah hanyalah sampul luar yang bisa mengecoh kita, karena keluhuran budi manusia itu berada di dalam diri manusia itu sendiri. Oleh karena itu marilah kita menerima manusia apa adanya, tanpa praduga, tanpa diskriminasi dan tanpa memandang perbedaan yang ada di antara manusia itu sendiri.

Setiap manusia menyandang kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Semua manusia adalah ciptaan Tuhan dan dengan perbedaannya Tuhan menginginkan saling melengkapi satu sama lain, agar kehidupan manusia menjadi lebih baik dan lebih berdaya guna untuk hidup masyarakat manusia itu sendiri. Alangkah indahnya bila perbedaan yang ada dalam kehidupan ini dihargai dan dirayakan. Tentu saja kita dan sesama tidak merasa takut untuk membuka diri, membuka selubung kepura-puraan yang selama ini dimainkan dalam panggung sandiwara dunia ini. Dunia ini juga akan lebih baik ketika setiap penduduknya saling menerima dan berbagi tanpa memakai ‘topeng’ orang lain.

(Basuki Arlijanto)

KEKUATAN ITU BERNAMA KELEMAHAN
“Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau”… Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah,...