Warta Minggu Ini
45 MENIT YANG MENGUJI DAN MENGUATKAN IMAN

“Janganlah khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4: 6)


Khotbah Pdt. Yesie beberapa waktu lalu, tentang “Ketika Kendali Berhadapan dengan Kasih” mengingatkan saya tentang kejadian hari Sabtu, 7 Februari 2026, pengalaman yang hanya 45 menit, tapi mengubah cara saya memandang iman dan penyerahan kepada Tuhan. Sabtu pagi itu, seperti biasa, anak saya akan pergi ke gereja untuk latihan musik bersama teman-teman katekisasinya. Rumah yang bertetangga dengan gereja, anak saya terbiasa berjalan kaki pulang pergi sendiri dan kami juga merasa aman-aman saja selama ini. Sabtu itu, saat anak saya baru keluar rumah dan berjalan kaki sekitar 10 meter dari rumah, tiba tiba ia dihadang sekelompok orang dan dibawa pergi menggunakan motor.

Dalam situasi yang sangat cepat dan tidak terduga, anak saya sempat mengirimkan pesan WhatsApp kepada saya dan suami: meminta tolong. Sebagai orangtua, terutama saya sebagai ibu, itu adalah momen yang sangat menyesakkan. Anak minta pertolongan, tetapi kami merasa tidak berdaya. Hati dipenuhi kepanikan, pikiran dipenuhi ketakutan. Dalam tangis saya berseru kepada Tuhan: “Tuhan, Hugo mau pergi ke gereja. Kenapa Tuhan tidak menjaganya? Mengapa Tuhan mengambil yang terbaik?” Di tengah keputusasaan itu, saya merasakan sebuah bisikan lembut di hati: “Hugo aman bersama-Ku. Dan memang memberi kepada-Ku harus yang terbaik.”

Saat itu saya tiba-tiba teringat kisah Ayub yang kehilangan segalanya tapi tetap memuji Tuhan. Saya jadi menyadari bahwa selama ini saya berkata percaya, tapi ketika kendali terasa lepas, hati saya goyah. Dalam momen itu, doa saya berubah. Bukan lagi mempertanyakan, melainkan mengucap syukur: “Tuhan Yesus, terima kasih Engkau sangat baik. Hugo aman bersama-Mu. Ampuni saya yang sempat meragukan-Mu.” Itu yang saya ucapkan dan doakan berulang-ulang. Situasi belum berubah. Anak saya belum kembali. Tapi hati saya mulai dipenuhi damai sejahtera. Sekitar 45 menit kemudian, anak saya pulang dengan selamat. Hari itu saya belajar: mukjizat pertama bukan saat keadaan berubah, melainkan saat hati saya berserah. Ketika saya berhenti mencoba mengendalikan, dan memilih percaya.

Saya diingatkan pada pengakuan Ayub dalam Ayub 1:21 “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Semua yang kita miliki adalah kepunyaan Allah. Anak-anak kita, keluarga kita, bahkan hidup kita sendiri adalah titipan-Nya. Jika suatu hari Allah mengambil kembali milik-Nya, masihkah kita tetap memuji dan mengucap syukur? Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa kasih sejati kepada Tuhan berarti mempercayakan apa yang paling kita kasihi ke dalam tangan-Nya. Ketika kendali kita berhadapan dengan kasih, kita diundang untuk memilih: bertahan dalam ketakutan, atau berserah dalam iman. Kiranya kita semua dimampukan untuk tetap percaya, bahkan ketika tidak memegang kendali, karena Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang setia dan tidak pernah lalai menjaga. Soli Deo Gloria.

(Eva Pitna Soepardi)

KUNJUNGAN KASIH
”….Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. ” (Ibrani 13:5)...