2017: SETIA HINGGA TUNTAS

“Dan aku melihat sesuatu bagaikan lautan kaca bercampur api, dan di tepi lautan kaca itu berdiri orang-orang yang telah mengalahkan binatang itu dan patungnya dan bilangan namanya. Pada mereka ada kecapi Allah. Dan mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba, bunyinya: “Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!””
(Wahyu 15 : 2 – 3)

Riuh redam tahun 2016 akan segera berlalu. Ramai-ramai, kita akan melakukan prosesi tahun baru, yaitu segera memasang kalender baru. Namun, tentu bukan hanya itu saja kegiatan memasuki tahun yang baru. Orang-orang akan diajak untuk berefleksi akan segala hal yang telah terjadi di tahun yang telah terlewati. Tak berhenti di situ, kita diajak untuk bersiap memasuki tahun yang baru, di mana setiap peristiwa di dalamnya masih menjadi misteri. Di tengah misteri itu, sayup-sayup realita panggung 2017 akan menjadi panggung dengan adegan yang makin keras, tampaknya membuat bertambah panas para pelaku di dalamnya. Lalu, bagaimana kita sebagai umat Tuhan, menjalani berbagai babak yang makin panas dan keras itu?

Gambaran lautan kaca dan orang-orang yang berdiri di tepinya pada ayat 2 dari kitab Wahyu 15, merujuk pada gambaran peristiwa Keluaran saat umat Israel melewati Laut Merah untuk melepaskan diri dari penindasan Mesir. Tampaknya yang hendak disampaikan penulis adalah kelepasan yang akan terjadi atas umat Allah setidaknya akan seperti atau bahkan bisa lebih besar dari peristiwa kelepasan yang terjadi pada peristiwa Keluaran. Orang-orang yang berdiri di tepi lautan kaca itu adalah mereka yang telah berhasil mempertahankan iman dan tetap percaya kepada Allah ketimbang percaya dan menyembah kepada “binatang” dengan segala atributnya, yang menunjuk kepada Kekaisaran Romawi. Pada masa itulah, penyembahan kaisar diberlakukan dan kaisar menyebut diri sebagai yang ilahi yang harus disembah. Umat Allah ditekan dengan praktik politik dan kultural yang mengancam dan menjauhkan mereka dari iman kepada Allah. Umat Allah yang mengalahkan binatang itu adalah mereka yang memilih setia untuk beriman kepada Allah.

Mereka yang setia kepada Allah dalam kondisi krisis itu merasakan atau mendapatkan suatu kemenangan yang terekspresikan melalui nyanyian Musa. Lagu ini dinyanyikan Musa dalam kemenangannya setelah dengan selamat menyeberang Laut Merah (Keluaran 15 : 1 – 19). Nyanyian ini menjadi peringatan pembebasan terbesar dalam sejarah Israel sebagai umat Allah dan kini sebagai nyanyian kemenangan bagi mereka yang setia beriman kepada Allah. Sementara dengan menyebut nyanyian Anak Domba, penulis ingin menegaskan peristiwa kemenangan yang sempurna oleh Allah di dalam diri Yesus Kristus.

Menapaki tahun 2017 yang penuh tantangan finansial ataupun politik yang makin buas, umat Tuhan diajak untuk memiliki kesetiaan hingga tuntas. Itu artinya, kita diajak untuk tetap berpegang teguh kepada Allah dalam berbagai situasi. Tuhanlah yang memberi jaminan penyertaan agar umat-Nya mampu melampaui berbagai kesulitan yang dihadapi. Karena itu, awalilah tahun yang baru dengan mengambil komitmen untuk memiliki iman yang setia hingga tuntas. Kiranya Tuhan menolong kita.

(Fajar Junianto, M.Si (Teol))

ANTUSIASME BERIBADAH
“Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan...