Warta Minggu Ini
REFLEKSI SINGKAT MELAYANI

“Karena itu, Saudara-saudaraku yang terkasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab, kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”

(1 Korintus 15: 58 – TB2)


Enam tahun bukan waktu yang sebentar. Namun, untuk melayani Tuhan rasanya sebentar dan penuh dengan cerita. Menjadi seorang penatua (baca aktivis gereja) selama enam tahun, bukanlah sekadar jabatan tapi lebih ke tanggung jawab, baik kepada sesama jemaat, apalagi kepada Tuhan. Bukan karena layak dan hebat, tapi hanya karena anugerah.

Hal diatas adalah hal yang sering kita dengar dan terkadang terasa klise. Sangat berbeda kalau kita mengalami sendiri, kok rasanya gak jadi suci-suci amat, gak menjadi mirip malaikat atau menjadi lebih rohani kalau jadi penatua? Malah sebenarnya sering menemukan begitu banyak kekurangan, kesalahan, pertengkaran, konflik, dosa dan aib, baik di diri sendiri, lingkungan pelayanan, program-program kerja, dan masih banyak lagi. Intinya menjadi penatua bukan masuk ke ruang atau level yang lebih suci, lebih tinggi atau lebih dekat dengan Tuhan. Justru seringkali malah jadi batu sandungan. Pengalaman pribadi di mana anak atau teman suka menyindir, “Kamu kan penatua, kok begitu? – kalau saya salah, marah, kurang sabar atau kurang rohani.”

Kayaknya menjadi penatua, jadi sangat menakutkan, takut mengecewakan manusia apalagi mengecewakan Tuhan. Takut menjadi batu sandungan (sekali lagi) atau teladan yang salah, yang dilihat dan dinilai oleh orang. Akan tetapi apakah memang seorang penatua dituntut seperti itu? Menjadi manusia setengah malaikat? Sempurna menjadi teladan dan saksi di mana saja, kapan saja?

Buat saya mungkin, yang jauh dari aspek rohani, pengalaman yang lalu saat ditunjuk, dipercaya dan diteguhkan menjadi penatua adalah ajang dilatih, melatih dan merubah diri kita menjadi lebih baik, lebih sabar dan sebagainya. Dengan harapan perubahan yang didesain dan direncanakan tersebut menjadi permanen dan justru menjadi karakter baru kita, Bahasa rohani-nya, lahir baru.

Namun,sebenarnya hal diatas bukanlah monopoli proses seorang penatua, namun berlaku bagi semua orang yang percaya yang lahir baru. Hanya, memang saat menjadi penatua, kita diwadahi, difasilitasi dan dikelilingi oleh manusia-manusia yang punya misi dan visi yang sama. Hal yang perlu disyukuri adalah kita berada di dalam lingkungan (baca persekutuan) yang mendukung.

Jadi walaupun sudah tidak menjadi penatua lagi, hendaklah semuanya tetap setia melayani dan menjadi teladan. Sebagaimana para mantan penatua ini sudah dilatih di masa pelayanan enam tahun jadi penatua. Dan proses berlanjut terus. Semoga kita pun terus menjadi berkat di mana Tuhan menempatkan kita dan tentunya untuk kemuliaan Tuhan semata.

Jerry Fandy

WAKTU TUHAN PASTI YANG TERBAIK
“Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang...