Warta Minggu Ini
DI MANA HATIMU BERADA? (BAGIAN I)

“Aku tahu, bahwa TUHAN akan memberi keadilan kepada orang tertindas, dan membela perkara orang miskin”

Mazmur 140: 13 (TB-2)


Kekerasan seksual, topik yang masih tabu untuk dibahas, disampaikan dalam ibadah gabungan Pemuda Remaja di GKI Kayu Putih. Yang menyampaikan adalah Pdt. Ayunistya dan Kak Nael Sumampouw, seorang psikolog. Kekerasan seksual adalah “Setiap perbuatan merendahkan, menghina, melecehkan, dan/atau menyerang tubuh, dan/atau fungsi reproduksi seseorang karena ketimpangan relasi kuasa dan/atau relasi gender, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan psikis dan/atau fisik”. Meski kita pastinya sudah familiar dengan istilah “kekerasan seksual”, seringkali orang-orang meremehkannya. Kata-kata doang begitu, ga usah lebay deh, kamu juga merasa senang kan digodain, disiulin, dan digituin? Kira-kira begitulah tanggapan yang akan muncul jika pelaku catcalling (yang mana adalah salah satu bentuk pelecehan seksual) ditegur.

Yang menyedihkan, jika korban menceritakan kegusarannya, tak jarang orang akan berbalik menyalahkan sang korban, dengan berkata “kamunya pakai baju mengundang sih!” Padahal pada saat aku mengalami catcalling, aku sedang mengendarai motor dengan memakai baju seragam sekolah. Karena diremehkan inilah, riset menunjukkan setidaknya 1 dari 11 perempuan mengalami kekerasan seksual. Dan jangan salah, bukan hanya perempuan, laki-laki pun menjadi korban kekerasan seksual. Siapa yang menjadi pelaku kekerasan seksual tersebut? Rupanya berdasarkan riset pula, kebanyakan kekerasan seksual pada kaum muda dilakukan oleh teman sebayanya. Kekerasan seksual terjadi dalam relasi pasangan yang toxic maupun kekerasan seksual yang dilakukan dalam lingkup sekolah dan pekerjaan karena terdapat superioritas yang memaksa korban untuk tunduk.

Jika ada kekerasan seksual, dimanakah hatimu berada? Hati kita sebagai orang Kristen harus berada di mana hati Tuhan berada. Di mana hati Tuhan berada? Hati Tuhan berada pada keadilan. Dalam Mazmur 140:13 tertulis, “Tuhan akan memberi keadilan kepada orang tertindas”. Tentu dalam kasus kekerasan seksual, korbannya adalah “orang yang tertindas” itu. Saat membaca keseluruhan Mazmur ini, kita menemui kalimat-kalimat seperti, “Luputkanlah aku, ya Tuhan, dari pada manusia jahat, jagalah aku terhadap orang yang melakukan kekerasan,” dan “Allahku Engkau, berilah telinga ya Tuhan, kepada suara permohonanku!” terbayang kira-kira beginilah pedih seruan korban kekerasan seksual saat mengadukan perkaranya pada Tuhan.

Lalu jika teman kita adalah korban kekerasan seksual, apa yang harus kita lakukan? Kita harus menjadi sahabat yang baik baginya dengan menempatkan diri kita di sepatu teman kita. Jika kita adalah korban, apakah kita mau disudutkan dengan ucapan, “Masa sih orang itu ngelecehin kamu? Perasaanmu doang kali?” Tentunya kita tidak mau dibegitukan, bukan? Oleh sebab itu, dengarkan ceritanya. Untuk bisa terbuka soal peristiwa ini saja sudah sangat sulit. Korban perlu merasa aman dan nyaman setelah peristiwa yang menimpanya jadi jangan menyalahkan dia. Setelah mendengar ceritanya, jika diperlukan bisa beri dukungan lebih lanjut seperti mendoakan.

Grace Angelique Natanael

FOOTPRINTS IN THE SAND
Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yohanes...