Warta Minggu Ini
BERSUKACITA DI TENGAH DUKA

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam penderitaan, dan bertekunlah dalam doa!”

(Roma 12: 12 – TB2)


Di saat saya mengalami duka yang mendalam, Tuhan lewat Firman-Nya meneguhkan saya untuk bersukacita. Hal inilah yang saya alami waktu suami saya kembali ke rumah Bapa di Surga. Pada suatu jumat malam, rekan kantor suami saya meminta saya datang ke IGD RS. Mayapada Kuningan. Pada saat itu, saya balas dengan balik bertanya, “Ada apa karena suami berangkat kerja dengan kondisi sehat.” Tetapi ternyata pagi itu adalah waktu terakhir kali kami melihatnya hidup dan bisa diajak ngobrol. Ketika saya akhirnya berangkat ke rumah sakit, saya mendapat keterangan dokter di IGD bahwa suami sudah dinyatakan meninggal dunia. Dokter mengatakan bahwa suami saya mengalami DOA alias Death on Arrival.

Setelah mendapat keterangan dokter, perasaan saya campur aduk, antara mimpi tapi ini bukan mimpi. Rasanya, seperti disambar petir bahkan sampai saya merasa tidak menjejak ke lantai. Yang bisa saya lakukan hanyalah menjerit dan bertanya berulang-ulang pada dokter, “Jadi suami saya sudah meninggal, Dok?” Saking tidak percayanya saya dengan apa yang baru disampaikannya. Dokter akhirnya meninggalkan saya berdua dengan jenazah suami. IGD kosong. Adik yang mengantar masih memarkir kendaraan. Setelah pemakaman, adik baru jujur mengatakan bahwa dia tidak sanggup masuk IGD mendengar jeritan saya dari luar IGD.

Saat itu saya marah dengan Tuhan, saya bilang “Tuhan apa sudah lupa kalau Papa saya baru meninggal mendadak karena covid 6 bulan lalu. Kemudian suami saya meninggal mendadak juga, apa Tuhan pikir saya kuat menghadapi semua ini? Apa yang harus saya perbuat setelah ini? Bagaimana kehidupan saya dan anak setelah ini? Apa Tuhan pikir saya kuat?” Saya terdiam lemas setelah banyak protes kepada Tuhan. Tuhan langsung menjawab pertanyaan saya melalui kawan persekutuan doa yang menelepon saya dan memberi kekuatan. Selain itu, adik-adik saya, kawan sepelayanan, dan keluarga dari suami juga menguatkan saya. Setelah semua proses persiapan untuk ke rumah duka dan proses persiapan pemakaman, Tuhan berikan 2 ayat untuk saya, Roma 12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam penderitaan, dan bertekunlah dalam doa! Satu ayat lainnya adalah Filipi 4:4 Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!

Jujur waktu itu bingung sekali kenapa saya mendapatkan dua ayat itu. Apalagi dengan pertanyaan saya dengan penuh emosi kepada-Nya. Yang akhirnya saya tahu bahwa Tuhan memberi kekuatan kepada saya melalui orang-orang di sekitar, kawan sepelayanan, kawan kelompok doa, keluarga sampai kawan-kawan yang sebelumnya jarang kontak. Tidak pernah dapat dipahami apa rencana Tuhan. Yang saya yakini hingga sekarang bahwa Tuhan tidak pernah salah, waktu-Nya selalu tepat, walaupun saya tidak mengerti saat itu apa yang menjadi rencana indah-Nya.

Tuhan Yesus baik
Tuhan Yesus sangat baik
Tuhan Yesus teramat baik!

Irene Situmorang

GOD RECREATES THE WORLD
Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku...