Warta Minggu Ini
MENYESAL

“Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.”

(Yoel 2 : 13)

Banjir tahun ini di Jakarta begitu parahnya. Dalam dua bulan, Jakarta sudah terendam lebih dari tiga kali. Selain curah hujan yang begitu deras, penyebab banjir juga dikarenakan kegagalan kita dalam memelihara lingkungan serta manajemen penanggulangan banjir yang tak bijak dari pihak-pihak yang berwenang. Akibatnya bencana tak bisa kita hindari; dan berkali-kali kita harus membersihkan rumah, terhambat melakukan aktivitas sehari-hari.

Minggu ini kita memasuki Minggu Pra Paska pertama. Minggu Pra Paska selalu menjadi momen bagi kita untuk mengingat penderitaan Kristus yang telah menebus dosa-dosa kita. Dalam tradisi Pra Paska, kita diajak untuk menyesali kesalahan dan memperbaiki diri. Tanda kita memasuki tradisi penyesalan yaitu Rabu Abu yang telah kita jalani beberapa hari yang lalu. Dalam budaya Yahudi, abu menjadi simbol dari kerendahan diri di hadapan Tuhan; pernyataan bahwa kita adalah manusia yang penuh dosa dan fana. Saat abu dioleskan ke dahi kita, para pelayan mengatakan satu kalimat bahasa Latin: memento mori. Kalimat ini mengingatkan kita akan kefanaan sebagai manusia: “ingatlah, engkau berasal dari debu dan kembali menjadi debu.” Ingatan akan kefanaan mengajak kita untuk menyesal dan bertobat. Tanda salib yang disematkan di dahi pun menjadi ingatan bahwa Kristus telah menggantikan kita yang berdosa dengan pengorbanan-Nya.

Ajakan untuk menyesal sebagai tanda pertobatan diungkapkan Yoel kepada umat Israel. Akibat kesalahan umat terjadilah kekacauan dan kehancuran. Yoel menyampaikan ajakan Tuhan untuk bertobat. Pertobatan yang diawali dengan penyesalan atas semua yang pernah umat perbuat. Penyesalan tersebut harus bersumber dari hati. Karena itu, dalam ayat di atas, Tuhan menyerukan yang harusnya dikoyakkan bukan pakaian, tetapi hati. Mengoyakkan pakaian yang biasanya dipakai dalam tradisi penyesalan Yahudi hanyalah simbol yang belum tentu keluar dari hati. Tuhan menghendaki penyesalan yang sungguh-sungguh dan hati menjadi sumber dari pengakuan yang jujur dan keinginan yang kuat untuk merubah hidup.

Kembali pada persoalan banjir. Pada masa Pra Paska, ajakan menyesal menggema dalam sanubari kita. Kita adalah manusia yang berdosa, dengan sengaja atau tidak sengaja, turut serta merusak bumi yang kita cintai. Menyesallah untuk begitu banyaknya sampah plastik yang kita gunakan dan buang sembarangan. Menyesallah karena kita tak begitu peduli dengan kesejahteraan hidup sesama makhluk di bumi. Menyesallah karena kita membiarkan pemimpin yang tak bisa bijak dengan diam menyaksikan apa yang dilakukannya. Penyesalan selalu disertai dengan tindakan perubahan untuk tak melakukan kesalahan yang sama. Berdamailah dengan alam dan bersuaralah terhadap ketidakbenaran!

Selamat memasuki masa Pra Paska. Mari menyesal dan bertobat.

(Pdt. Linna Gunawan)

MENCINTAI UNTUK DICINTAI
“Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” (Efesus 5 :...